Dosen AP Pascasarjana UMMETRO Tekankan Peran “Guru Muhammadiyah” dalam Penguatan ORTOM pada Baitul Arqam SMK Muhammadiyah 3 Metro
Metro – SMK Muhammadiyah 3 Metro menyelenggarakan kegiatan Baitul Arqam Guru dan Karyawan pada tanggal 13–14 Juni 2026 di Aula Revitalisasi SMK Muhammadiyah 3 Metro. Kegiatan yang mengusung tema “Menguatkan Nilai-Nilai Keislaman, Ideologi Muhammadiyah, dan Komitmen di SMK Muhammadiyah 3 Metro” ini menjadi sarana pembinaan dan penguatan ideologi bagi seluruh guru dan karyawan dalam menjalankan perannya sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dan akademisi Muhammadiyah, salah satunya Dr. Joni Wuryanto, M.Pd., dosen Program Studi Administrasi Pendidikan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Metro (UMMETRO), yang menyampaikan materi tentang Pembinaan Organisasi Otonom (ORTOM) di Sekolah Muhammadiyah.
Dalam pemaparannya, Dr. Joni Wuryanto menegaskan bahwa tantangan terbesar sekolah Muhammadiyah saat ini bukan hanya mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memastikan proses kaderisasi Muhammadiyah berjalan secara sistematis dan berkelanjutan. Oleh karena itu, keberadaan ORTOM seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Hizbul Wathan (HW), dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah harus ditempatkan sebagai bagian penting dari sistem pendidikan Muhammadiyah, bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan ORTOM sangat bergantung pada kualitas dan komitmen para guru. Guru di sekolah Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi guru yang mengajar di sekolah Muhammadiyah, tetapi harus tumbuh menjadi “Guru Muhammadiyah”, yaitu guru yang memahami, menghayati, mengamalkan, dan memperjuangkan nilai-nilai Muhammadiyah dalam seluruh aktivitas pendidikan dan kehidupan bermasyarakat.
“Menjadi Guru Muhammadiyah berarti memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan materi pelajaran di kelas. Guru Muhammadiyah adalah pendidik, pembina, kader, sekaligus penggerak dakwah Persyarikatan. Ia tidak hanya bertanggung jawab terhadap keberhasilan pembelajaran, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kemajuan Muhammadiyah dan proses kaderisasi generasi penerusnya,” jelas Dr. Joni.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa setiap guru Muhammadiyah harus memiliki kepedulian terhadap aktivitas Persyarikatan, mulai dari mendukung program sekolah, berpartisipasi dalam kegiatan Muhammadiyah di tingkat ranting, cabang, maupun daerah, hingga terlibat aktif dalam pembinaan ORTOM. Guru harus hadir sebagai pendamping, motivator, dan teladan bagi peserta didik dalam berorganisasi dan bermuhammadiyah.
Dalam konteks pembinaan ORTOM, guru memiliki peran strategis dalam membangun budaya kaderisasi di sekolah. Pembinaan IPM, HW, dan Tapak Suci tidak boleh hanya dibebankan kepada beberapa pembina, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah. Dengan demikian, kaderisasi tidak berjalan secara parsial, melainkan menjadi bagian dari budaya dan ekosistem pendidikan Muhammadiyah.
Dr. Joni juga mengingatkan bahwa sekolah Muhammadiyah yang maju ditandai dengan kuatnya kaderisasi dan hidupnya organisasi otonom di lingkungan sekolah. Banyak kader Muhammadiyah lahir dari proses pembinaan yang konsisten melalui ORTOM. Oleh karena itu, sekolah perlu memberikan ruang yang luas bagi siswa untuk belajar memimpin, mengelola program, berlatih berdakwah, serta mengembangkan karakter melalui berbagai aktivitas organisasi.
Selain itu, ia mendorong adanya evaluasi berkala terhadap program pembinaan ORTOM, baik dari aspek partisipasi siswa, kualitas kegiatan, keberlanjutan kaderisasi, maupun kontribusinya terhadap pencapaian visi sekolah. Evaluasi tersebut penting agar ORTOM tidak hanya aktif secara administratif, tetapi benar-benar mampu menghasilkan kader Muhammadiyah yang militan, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Kepala SMK Muhammadiyah 3 Metro, M. Husen FA., S.Pd.I., menyampaikan bahwa kegiatan Baitul Arqam merupakan bagian dari upaya sekolah dalam memperkuat identitas dan budaya Muhammadiyah di lingkungan sekolah. Menurutnya, guru dan karyawan merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan sekaligus kader Persyarikatan yang memiliki tanggung jawab besar dalam membina generasi penerus Muhammadiyah.
“Kami berharap melalui Baitul Arqam ini tumbuh kesadaran bersama bahwa guru dan karyawan SMK Muhammadiyah 3 Metro bukan hanya bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah. Karena itu, penguatan ideologi, komitmen, dan keterlibatan dalam pembinaan ORTOM harus terus ditingkatkan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, SMK Muhammadiyah 3 Metro meneguhkan komitmennya untuk membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga kuat dalam pembinaan karakter, ideologi, dan kaderisasi Muhammadiyah. Sinergi antara sekolah, Persyarikatan, dan perguruan tinggi Muhammadiyah diharapkan mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, berjiwa pemimpin, serta siap melanjutkan perjuangan Muhammadiyah di masa depan.