Menempuh Pendidikan Bersama, Meraih Gelar Bersama: Pasangan Suami Istri Tuntaskan Ujian Tesis di MAP Pascasarjana UM Metro
Metro, 9 September 2026 - Ada banyak cara untuk menempuh perjalanan pendidikan. Namun, menjadi istimewa ketika perjalanan itu dijalani bersama orang yang dicintai. Hal itulah yang tergambar dalam pelaksanaan ujian tesis mahasiswa Program Studi Magister Administrasi Pendidikan (MAP) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Metro, Rabu, 9 September 2026.
Pada hari yang sama, Ferdinand (NPM 25720057) dan Amelia Riyanti (NPM 25720058) mengikuti ujian tesis. Keduanya bukan sekadar rekan sesama mahasiswa, tetapi merupakan pasangan suami istri yang memilih menjadikan pendidikan sebagai bagian dari perjalanan hidup dan perjuangan keluarga.
Kisah Ferdinand dan Amelia memberikan pesan sederhana namun mendalam: ketika pasangan saling mendukung, cita-cita yang berat dapat terasa lebih ringan untuk diperjuangkan. Mereka belajar bersama, melewati kesibukan dan tantangan studi bersama, hingga akhirnya berdiri pada tahap penting dalam perjalanan akademik, yakni ujian tesis.
Ferdinand mengangkat penelitian berjudul “Penerapan Interactive Flat Panel (IFP) untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran di TK 02 Yapindo Kecamatan Gedung Meneng Tulang Bawang.” Penelitian ini menyoroti pemanfaatan teknologi interaktif dalam pembelajaran sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas proses pendidikan, khususnya pada jenjang pendidikan anak usia dini.
Sementara itu, Amelia Riyanti mengangkat penelitian berjudul “Perbandingan Kinerja Guru yang Dipimpin Gaya Kepemimpinan Transformasional dengan Gaya Kepemimpinan Transaksional pada Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Gedung Meneng Tulang Bawang.” Penelitian tersebut mengkaji peran gaya kepemimpinan dalam kaitannya dengan kinerja guru serta pentingnya kepemimpinan yang mampu mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di sekolah.
Menariknya, kedua penelitian tersebut memiliki warna yang berbeda, tetapi berada dalam satu rumpun besar yang sama, yaitu upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Ferdinand melihatnya melalui perspektif inovasi teknologi pembelajaran, sedangkan Amelia melalui perspektif kepemimpinan dan kinerja guru.
Ujian tesis keduanya dibimbing oleh Dr. Garianto, M.Pd.I. selaku Pembimbing I dan Dr. Sudarman Dani, M.Pd. selaku Pembimbing II, serta diuji oleh Dr. Sutrisni Andayani, M.Pd. Proses ujian berlangsung dalam suasana akademik yang penuh dengan diskusi, pertanyaan, masukan, dan penguatan terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan.
Bagi Ferdinand dan Amelia, momen tersebut tentu bukan sekadar agenda akademik. Ujian tesis menjadi buah dari proses panjang yang mereka jalani bersama. Ada waktu yang harus dibagi antara keluarga, pekerjaan, aktivitas sehari-hari, dan kewajiban akademik. Namun, justru di situlah nilai perjuangannya.
Pendidikan tidak selalu membutuhkan perjalanan seorang diri. Terkadang, keberhasilan menjadi lebih bermakna ketika ada seseorang yang berjalan di samping kita, memberikan semangat ketika lelah, mengingatkan ketika mulai menyerah, dan ikut bahagia ketika perjuangan akhirnya sampai pada titik yang diharapkan.
Kisah Ferdinand dan Amelia menjadi inspirasi bahwa melanjutkan pendidikan setelah berkeluarga bukanlah sesuatu yang mustahil. Justru keluarga dapat menjadi sumber motivasi untuk terus bertumbuh. Suami dan istri dapat menjadi partner dalam belajar, partner dalam berjuang, sekaligus partner dalam meraih masa depan.
Bagi Program Studi Magister Administrasi Pendidikan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Metro, kisah seperti ini menjadi bagian dari wajah pendidikan yang ingin dibangun: pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik, tetapi juga manusia yang memiliki semangat belajar, ketekunan, dan kemauan untuk terus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Ferdinand dan Amelia telah menunjukkan bahwa gelar magister bukan hanya tentang selembar ijazah. Ia adalah simbol dari waktu yang dikorbankan, kesabaran yang diuji, doa yang dipanjatkan, dan perjuangan yang dilakukan bersama.
Hari ini mereka berdiri di ruang ujian sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan perjuangan akademiknya. Semoga esok mereka melangkah sebagai dua insan terdidik yang mampu membawa ilmu tersebut kembali kepada keluarga, sekolah, masyarakat, dan dunia pendidikan.
Karena pendidikan yang diperjuangkan bersama bukan hanya menghasilkan gelar, tetapi juga menghadirkan cerita tentang cinta, ketekunan, dan keberanian untuk tumbuh bersama.(Joni Wu)